Selasa, 04 Juni 2013

Kelasi Jantung


Untuk memahami teori yang diajukan sebagai dasar penerapan kelasi jantung, Anda perlu mengetahui bahwa pengerasan pembuluh darah (aterosklerosis) dapat dipicu oleh peningkatan dan penumpukan jumlah kalsium dalam darah. Tentu saja, hal ini akan berdampak bagi kesehatan jantung Anda.
Fakta bahwa obat yang digunakan dalam terapi kelasi jantung dapat mengikat mineral kalsium yang menumpuk dalam darah, menjadikannya sebagai salah satu alasan mengapa terapi kelasi diterapkan pada penyakit pembuluh darah dan jantung.
Beberapa orang boleh jadi mendukung penerapan terapi kelasi jantung karena melihat dan percaya pada kisah kesembuhan orang-orang yang menjalaninya. Namun, tidak sedikit juga yang menentangnya, termasuk beberapa otoritas kesehatan terkemuka di Amerika, dimana terapi kelasi jantung pertama kali berkembang, diantaranya meliputiFood and Drug Administration (FDA), American Heart Association (AHA), American College of PhysiciansNational Heart, Lung, and Blood InstituteNational Institutes of HealthAmerican Medical Association (AMA), dan American College of Cardiology.
Selain resiko besar yang mungkin dialami pasien, tidak adanya penelitian dan bukti ilmiah mengenai keamanan serta keefektifan kelasi jantung, menjadi alasan utama mengapa terapi ini tidak dianjurkan oleh berbagai otoritas kesehatan tersebut bagi penderita jantung.
Misalnya, perhatikan salah satu penelitian yang pernah dilakukan mengenai terapi kelasi jantung. Hasil penelitian yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association (JAMA 2002;287:481-486) itu menunjukkan bahwa pasien-pasien yang menerima terapi kelasi selama 27 minggu, tidak lebih baik dibandingkan dengan pasien yang menerima plasebo (cairan tanpa obat).
Meskipun American Heart Association tidak mengetahui alasan mengapa beberapa orang merasa lebih baik setelah menjalani kelasi jantung, mereka yakin bahwa perubahan-perubahan positif bisa jadi dirasakan pasien karena perubahan gaya hidup yang dianjurkan terapis untuk dilakukan pasien seperti perubahan pada menu makanan, menghentikan kebiasaan merokok, dan rutin berolahraga.
Ya, Intinya, berbagai otoritas kesehatan tersebut tidak menganjurkan penerapan terapi kelasi bagi penderita jantung karena tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan keefektifan terapi kelasi jantung. 
American Medical Association (AMA) menyatakan bahwa diperlukan studi ilmiah yang dikontrol secara tepat serta pengawasan yang cermat dari Food and Drug Administration (FDA) untuk mempertanggungjawabkan keefektifan terapi kelasi jantung.
Bagaimana dengan penerapan terapi kelasi jantung di Indonesia? Di Indonesia, terapi kelasi jantung sudah dipraktekkan oleh beberapa klinik dan dilakukan dengan pengawasan dari dokter yang terlatih yang tergabung dalam Perhimpunan Kedokteran Komplementer dan Alternatif Indonesia (PKKAI) .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar